Text
Prospek Bisnis Industri & Pemasaran Pelumas
Pada peradaban Romawi dan Yunani kuno telah diproduksi berbagai peralatan roda seperti mesin bubut, gear, dan alat katrol mekanis, dengan menggunakan prisip ball dan roller bearing. Selanjutnya, dibuat daftar pelumas dengan menggunakan lemak binatang dan minyak tumbuhan.
Sedangkan minyak bumi (crude oil) baru digunakan setelah ditemukannya minyak di Rusia dan Timur Tengah. Fraksi berat dari minyak bumi ini kemudian dapat dibuat pelumas. Dengan ditemukan destilasi bertekanan (vacum destillation), fraksi berat kemudian dipisahkan tanpa terjadinya oksidasi pada produk.
Pada 1920 dengan menggunakan vacuum distillation, beberapa fraksi dikombinasikan dengan sabun untuk mendapat pelumas. Kemudian ditemukan additive sebagai campuran untuk meningkatkan performa base oil (minyak lumas dasar). Pencampuran aditif dan deterjen, untuk mengurangi oksida maupun penumpukan deposit di dalam mesin (engine). Di Indonesia, sejak diberlakukannya Keppres No 21/2001 tentang Penyediaan dan Pelayanan Pelumas, mengakhiri monopoli Pertamina di sektor migas termasuk pelumas. Dibukanya kran impor, mendorong persaingan pasar pelumas semakin ketat. Hal ini ditandai dengan munculnya berbagai merek pelumas kelas dunia seperti Castrol, Agip, Fuchs, ExxonMobil, Valvoline, Syintium, Shell, Petronas, Total, Chevron, Idemitsu, dan sebagainya. Bahkan, sebagian di antaranya membuka pabrik di Indonesia. Saat ini sedikitnya ada 250 merek pelumas, yang membanjiri pasar domestik. Meski persaingan cukup ketat, Pertamina tetap mendominasi bisnis pelumas di Indonesia. Dalam buku ini dibahas mengenai berbagai aspek terkait dengan keberadaan bahan baku pelumas, proses pembuatan pelumas, produksi, ekspor-impor, distribusi & penjualan pelumas, persaingan antar merek dan para pelaku pelumas.
| B2200674 | 650.0285 BIR p | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain