Text
Konsolidasi Perbankan Nasional: Dari Rekapitalasi Menuju Arsitektur Perbankan Indonesia (API)
Sejak perekonomian Indonesia dilanda krisis pada pertengahan kedua 1997, konsolidasi perbankan nasional bergulir sebagai isu besar. Secara kasat mata, hingga saat ini, konsolidasi perbankan dibu tuhkan demi negara nasional dari krisis. Nilainya nilai uang rupiah serta melonjaknya suku bunga dan dihentikannya perpanjang (rollover) fasilitas kreditor luar negeri, menyebabkan bank jatuh mengalami kesulitan keuangan. Pemerintah menawarkan rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) pada bulan November 1997 menutup 16 bank, namun tanpa kriteria penutupan bank. Jumlah simpanan yang dijamin oleh pemerintah pada saat itu dibatasi hanya sampai dengan Rp 20 juta per rekening, sehingga kondisi tersebut menyebabkan peningkatannya tingkat penabung terhadap perbankan nasional.
Bank Indonesia (BI) sebagai lender of the last resort akhirnya mengucurkan BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia) untuk menutupi bank- bank yang mengalami rush. Demi mencegah rush berkepanjangn, pada akhir Januari 1998 pemerintah menerbitkan blanket guarantee system untuk memulihkan tingkat kepercayaan masyarakat kepada perbankan nasional.
Sungguh pun demikian, stagnasi perkembangan sektor riil merupakan salah satu alasan mendasar mengapa konsolidasi perbankan nasional itu penting dijalankan sebagai penegasan kembali akan peran bank terhadap dinamika pada jagat perekonomian secara keseluruhan. Dengan demikian berarti, sudah sekitar delapan tahun lamanya dunia perbankan di Indonesia mencoba bermetamorfosis untuk menemukan sebuah format yang tepat ke arah konsolidasi.
Sebuah catatan yang kemudian penting dikemukakan ialah bahwa sebagai lembaga intermediasi bidang keuangan setiap bank di Indonesia terbuka untuk membangun perspektif secara tersendiri, saat harus memasuki proses konsolidasi. Itulah mengapa, tak berlebihan jika dikatakan bahwa konsolidasi merupakan ruang yang memungkinkan setiap bank untuk menemukan
pijakan secara tersendiri agar mampu memberikan kontribusi terhadap pemulihan perekonomian nasional dari krisis. Konsekuensinya, harus adapengakuan yang seksama bahwa begitu banyak perspektif yang sesungguhnya dapat dikemukakan untuk menakar, membedah dan menganalisis tepat tidaknya langkah konsolidasi yang dijalankan oleh sebuah bank. Manakala beragam perspektif itu diwadahi ke dalam penerbitan sebuah buku, maka niscaya harus terbit begitu banyak buku, yang
khusus berbicara tentang konsolidasi perbankan nasional.
Dari apa yang baru saja dikatakan, menjadi jelas posisi buku ini. Berbagai topik yang dikemukakan dalam buku ini merupakan perspektif yang dibangun oleh para penulisanya, Krisna Wijaya dan Djoko Retnadi, dalam menyorot konsolidasi perbankan nasional.
| B2200100 | 332.1 WIJ k | Tersedia | |
| B2300316 | 332.1 WIJ k | BRI Corporate University Library | Tersedia |
| B2300318 | 332.1 WIJ k | BRI Corporate University Library | Tersedia |
Tidak tersedia versi lain